Kilat memandangi Lynx dan Leena yang terjebak dalam kurungan laser. Dalam hatinya, kilat berpikir bahwa mereka berdua sangat berbeda dengan lawan-lawan yang pernah di hadapinya. Wanita ini memiliki kesan misterius, namun kekuatan yang dikeluarkan serasa mengguncang dunia.

"Ockron, bagaimana statusmu?" Tanya Kilat sambil memperhatikan tentakel milik Ockron yang sedang pulih. Nano partikel ditambah perubahan genetika pada tubuh Ockron, membuatnya dapat menjadikan tentakel-temtakel nano seolah menjadi salah satu bagian dari tubuhnya.

"Tidak lama lagi perangkatku normal kembali. Kita sebaiknya segera pergi dari sini sebelum Kanaya datang dan merebut jasa pertarungan ini." Bisik Ockron.

Mereka tahu, meski komandan Vex memperhatikan pertarungan mereka dari markas rahasia, namun jasa penangkapan bisa jatuh ketangan orang lain.

Tetapi belum sempat mereka menghubungi Pesawat, tidak berapa lama,rombongan mobil jeep datang dan berhenti serempak di persimpangan jalan tidak jauh dari tempat pertempuran Leena sebelumnya, lampu-lampu menyala terang menerangi jalan yang sudah dipenuhi pasukan bersenjata lengkap. Dari mobil terdepan, seorang wanita berwajah cantik turun, langkahnya mantap dan penuh wibawa. Sorot matanya tajam, menyapu situasi tanpa berkata apa pun.

Ratih yang melihat kedatangan rombongan, segera turun dari atap gedung. Dia mendarat ringan setelah melompat di antara dinding-dinding bangunan. Sebagai seorang pembunuh bayaran, dia terlatih dan memiliki kemampuan khusus  yang lebih tinggi dari manusia pada umumnya.

Selain itu, Ratih memiliki kemampuan melihat arah gerakan targetnya. Saat membidik, dunia seperti melambat dan jalur tembaknya muncul dengan sempurna, bahkan sebelum target bergerak. Karena itu, Ratih selalu di berikan posisi khusus sebagai sniper yang membantu mereka dari jarak jauh.

Namun saat menghadapi Lynx dan Leena, serangan Ratih yang tidak pernah meleset, satupun tidak mengenai sasaran. Leena dan Lynx selalu dengan mudah menghindari seolah mereka memiliki banyak mata dan mengetahui arah pergerakan peluru. Hal ini merusak reputasinya yang tidak pernah luput menembak.

Kekuatan lain yang dimilikinya adalah saat tubuhnya terluka, dengan cepat tubuhnya akan meregenerasi menyembuhkan diri, sama seperti Kilat.

Dengan cepat Ratih mendekati wanita yang baru datang itu dengan senyum puas.

"Kanaya, kamu terlambat," ucap Ratih sambil menyeringai. "Kami sudah bereskan semuanya."

Kanaya menyipitkan mata, ekspresinya datar namun tak menyembunyikan keraguan. Ia tahu betul jenis musuh yang mereka hadapi, dua kultivator dari dimensi lain. Tak mungkin segampang itu dikalahkan.

Kilat melangkah maju, pelindung lengannya masih menunjukkan bekas gesekan dari pertarungan singkat sebelumnya. Ia menatap Kanaya dengan sinis.

"Mereka sudah kami tangkap dengan jebakan laser. Sekarang tinggal diserahkan ke Komandan Vex," ujarnya dengan nada meremehkan.

Belakangan ini, Kilat dan teamnya memang tidak menyukai Kanaya dan mereka pernah bentrok di beberapa misi, dan mereka selalu gagal menangkap Kanaya. Bahkan mereka pernah terjebak di dalam kekuatan hipnotis Kanaya.

Setelah kembali dari dimensi lain dengan membawa seorang tahanan wanita, profesor Lala, Kanaya di berikan penghargaan posisi anggota Elite di The Hunter, posisi yang diidamkan oleh banyak anggotanya. Serta dia di bebaskan dari penjara dengan alasan diberikan kesempatan mengabdi kepada negara, walaupun sebenarnya mengabdi kepada Komandan Vex.

Bagi Kilat dan beberapa anggota yang lain, status dan penghargaan yang Kanaya terima hanyalah hasil kebetulan. Saat misi menangkap profesor Milo dan Lala terjadi, Kanaya memang yang ditugaskan karena mereka sedang menjalankan misi militer besar di kota lain. Bukan berarti mereka merasa lebih lemah, mereka hanya tidak diberi kesempatan. Selain itu, Kanaya belum lama bergabung dengan The Hunter. Sebelumnya, dia adalah pembunuh bayaran yang bekerja sendirian.

Kanaya tetap diam. Ia melangkah melewati mereka tanpa sepatah kata pun, membiarkan suara langkah sepatunya menjadi satu-satunya jawaban.

"Apakah kalian sudah membius mereka?" tanya Kanaya, matanya menyapu tajam ke arah Kilat, Ockron, Sandrage dan Ratih.

"Tidak perlu membius mereka," jawab Ockron sambil mengangkat bahu. Ia menekan tombol pada alat komunikasinya. "Tinggal angkat dan bawa ke markas seperti biasanya. Aku akan menghubungi Pesawat agar disiapkan pemindahan ke pesawat."

Kanaya memutar tubuhnya, wajahnya berubah tegang. "Dasar kalian bodoh. Seharusnya langsung bius mereka saat ada kesempatan!" bentaknya. Suaranya meninggi, nadanya berubah panik.

"Pasukan, siaga satu semuanya!" serunya lantang.

Tanpa aba-aba kedua, belasan pasukan langsung bergerak. Mereka mengambil posisi bertahan, senjata teracung ke segala arah, siap menghadapi kemungkinan terburuk.

"Kamu terlalu pengecut," geram Sandrage. Ia melangkah maju, suaranya tajam dan penuh ejekan. "Wanita sepertimu bisa dapat penghargaan? Kamu cuma beruntung dapat misi itu. Jangan lupa, kamu itu buronan. Harusnya kamu masih di penjara sekarang."

Ratih tetap diam. Tatapannya tidak berubah, tapi dalam hati, kata-kata Sandrage sangat tepat dengan yang dia rasakan. Selama ini dia berusaha untuk menjadi orang kepercayaan komandan Vex, namun siapa sangka wanita didepannya jutsru mendapatkan penghargaan menjadi anggota Elite dan kekuasaan untuk mengawasi proyek penting yang dijalankan Komandan Vex.

Kanaya tidak membalas. Instingnya sebagai pembunuh bayaran yang selalu hidup dalam bahaya mengingatkannya untuk segera waspada.

Ia berbalik tanpa berkata sepatah pun dan mengaktifkan kekuatannya, menghilang dari pandangan, tubuhnya lenyap seolah ditelan udara.

Dan seperti firasat Kanaya sebelumnya...

Duar!

Ledakan hebat mengguncang tempat itu. Kurungan laser yang menahan Lynx dan Leena hancur seketika. Komponen utama didalam tanah pecah menjadi kilatan api dan serpihan logam panas.

Lynx berdiri di antara debu dan asap yang mengepul, matanya bersinar redup. Ia telah membaca struktur energi kurungan itu sejak awal menggunakan mata langit dan menemukan celah untuk menghancurkannya. Dalam sekejap, sinar tak kasatmata dari matanya membakar titik lemah itu yang tersembunyi didalam tanah.

Tanpa menggunakan cara tersebut, Lynx memiliki banyak methode menerobos kurungan, namun dia tidak ingin melakukannya dan memilih menghancurkan mesin utama yang tersembunyi didalam tanah.

Tanpa suara, tubuhnya melesat ke depan seperti anak panah. Fokusnya hanya satu, menangkap Kanaya dan memaksanya melepaskan Lala.

Namun setibanya di tempat tersebut, Kanaya sudah lenyap. Ia menggunakan kekuatannya untuk membaur dengan lingkungan sekitar, tubuhnya lenyap dalam transparansi yang sempurna.

Lynx menatap Ratih yang masih terkejut dengan kehadiran Lynx diantara mereka, sementara Lynx sendiri menatap tajam Ratih untuk memastikan dia bukan Kanaya.

Lynx belum pernah melihat Kanaya, namun dia mendengar dari kejauhan percakapan mereka sehingga Lynx yakin, Kanaya berada di tempat itu. Namun kenyataannya, Lynx tidak berhasil menemukannya.

Semua pasukan segera bereaksi. Tanpa aba-aba, laras senjata diarahkan ke Lynx dan peluru bius yang sudah mereka siapkan meluncur cepat menghujani tubuhnya dari berbagai arah.

Tubuh Lynx tertembus ratusan proyektil, namun tak satu pun mampu menembus kulitnya. Peluru-peluru bius itu memantul, jatuh ke tanah seperti hujan logam yang tak berarti. Wajah Lynx tetap dingin, seakan tak merasakan apapun.

Di sisi lain, meskipun kaget dan tidak menduga jika pemuda di hadapannya bisa menghancurkan kurungan, Ockron memilih diam dan menyilangkan tangan di dadanya, alisnya terangkat dengan rasa penasaran. Sandrage hanya berdiri menyamping, memperhatikan dengan mata menyipit. Kilat menyeringai kecil, seolah ingin melihat kegagalan serupa terjadi di team Kanaya.

Ratih bersandar pada pilar reruntuhan, tak berkata sepatah kata pun. Mereka semua memilih untuk menonton, membiarkan tim Kanaya bertindak. Tak seorang pun menyangka Lynx bisa keluar dari kurungan itu. Bagi mereka, ini menjadi pertunjukan yang menarik.

Kanaya berdiri diam di tengah kekacauan, tubuhnya diam seperti patung tidak bergerak sama sekali, matanya tajam memperhatikan Lynx yang tak tergoyahkan. Dengan suara tegas lewat alat komunikasi, dia memberi perintah, "Keluarkan jaring! Sekarang!"

Jaring tersebut adalah sebuah perangkap menyerupai jala yang terbuat dari bahan khusus, pernah diuji ditarik oleh tiga tank, jala tersebut sangat kuat dan tidak putus.

Dua unit pasukan khusus segera bergerak, masing-masing membawa senjata menyerupai bazoka dimana saat di tembakkan maka silinder baja akan melepaskan jaring logam tipis dengan kilau biru samar.

Para pasukan menembakkan dua jaring ke arah Lynx. Jaring itu melesat, mengembang di udara seperti jaring laba-laba bercahaya dan menyelimuti tubuh Lynx dari berbagai sisi.

Begitu jaring itu menempel, arus listrik kuat mengalir. Retakan energi muncul, menjalar di sepanjang simpul-simpul jaring, mengikat tubuh Lynx dengan kekuatan penuh.

Namun...

Krak!

Dengan satu gerakan ringan, Lynx mengangkat kedua tangannya dan menarik jaring itu ke arah depan. Suara logam robek memekakkan telinga, jaring khusus yang dirancang untuk menahan mutan kelas tinggi itu terbelah dengan mudah seperti kertas tissue. Pecahan logam terlempar ke segala arah.

